freshGrace

Anak Sulung Yang “Terhilang”

Oleh: RP

Kita tentunya ingat perumpamaan Tuhan Yesus tentang si  anak bungsu yang hilang. Anak yang meminta warisan kepada ayahnya kemudian menghabiskannya dengan hidup berfoya-foya lalu kembali pulang ketika hartanya sudah habis dan perutnya kosong.

Si sulung, ketika adiknya kembali, marah kepada sang ayah yang merayakan kepulangan si bungsu. Seperti ayat yang dikutib diatas, si sulung mengatakan bahwa, bertahun-tahun lamanya ia bekerja keras dan tidak pernah melanggar perintah, namun ayahnya tidak pernah memberikan seekor anak kambing untuknya.

Walaupun tampak dari luar seperti anak teladan, yang selalu patuh dan bekerja keras, dan bahkan selalu tinggal di rumah dengan ayahnya, si sulung ini ternyata kehilangan identitasnya sebagai seorang anak. Teman-teman si sulung, tetangga-tetangga sang ayah, dan budak-budak di rumah mereka mengenali si sulung, ironisnya si sulung sendiri tidak menyadari atau lebih tepatnya, tidak menjalani identitas tersebut. Selama ini ia menganggap dirinya sebagai hamba yang bekerja keras untuk tuannya serta mengharapkan suatu saat tuannya akan membayarnya. Menyedihkan!

Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: “Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.” (Lukas 15:29)

Mungkin kita bukan si bungsu yang berfoya-foya dan hidup bergelimang dosa. Nah, tetapi apakah kita menyadari identitas kita, siapa kita sesungguhnya?

Banyak orang-orang Kristen yang tidak menjalani  identitas mereka sebagai anak-anak Bapa. Di KTP  tentu dicantumkan “Kristen” dalam kolom agama, di rumah dipasang ayat-ayat Alkitab, ke gereja setiap minggu, bahkan mungkin sebagian terlibat dalam pelayanan. Namun marilah kita benar-benar menyadari dan menjalani hidup intim sebagai anak Tuhan, yang ditebus oleh darah-Nya, umat kesayangan-Nya, biji mata-Nya. Maukah kita menyadari kasih Bapa seperti yang dikatakan dalam Galatia 4:6, Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa”?

Sending
User Review
3.5 (2 votes)

Add Comment

Klik sini untuk komentar