Artikel

Mati Terhadap Hukum Taurat

Oleh: Arie Saptaji

Saya cukup sering mendengar khotbah tentang mati terhadap dosa (Roma 6:11). Namun, jarang, atau malah belum pernah, saya mendengar khotbah tentang mati terhadap hukum Taurat (Roma 7:4, 6; Galatia 2:19).

Kebanyakan pengkhotbah masih “menyayangi” hukum Taurat–bukan seluruhnya, namun sebagian yang dianggap masih berlaku, dan yang sudah dimodifikasi, bagi orang percaya Perjanjian Baru. Misalnya, sebagai ganti peraturan Sabat, sekarang kita wajib beribadah ke gereja pada hari Minggu; atau, sebagai ganti memberikan persepuluhan kepada suku Lewi, sekarang kita memberikan persepuluhan kepada gereja dan atau hamba Tuhan. Hukum Taurat versi Perjanjian Baru juga bisa tampil secara terselubung melalui aneka prinsip atau peraturan rohani: harus membaca Alkitab, harus berdoa minimal sekian menit setiap hari, harus bersaat teduh, harus menjalani pemuridan, harus memberitakan Injil, harus melayani… dan seterusnya.

Para pengkhotbah itu tampaknya lupa akan hakikat dan karakteristik hukum Taurat.
Pertama, hukum Taurat ditujukan khusus bagi bangsa Israel.
“Karena itu, ingatlah bahwa dahulu kamu adalah orang-orang bukan Yahudi secara jasmani, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya ‘sunat’, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia. Pada waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia” (Efesus 2:11-12).
Penebusan Kristus bukan untuk membawa orang bukan Yahudi ke bawah hukum Taurat, melainkan untuk:
(1) “membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya” (ay. 15a);
(2) “menciptakan keduanya [orang Yahudi dan orang bukan Yahudi] menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya” (ay. 15b);
(3) “memperdamaikan keduanya [orang Yahudi dan orang bukan Yahudi], di dalam satu tubuh, dengan Allah melalui salib” (ay. 16).
Bagaimana mungkin kita memberlakukan kembali apa yang sudah dibatalkan oleh Kristus?

Kedua, hukum Taurat menuntut ketaatan 100%. Jika kita gagal melakukan salah satu saja dari 613 peraturan hukum Taurat, kita dianggap melanggar seluruh hukum Taurat (Yakobus 2:10). Dan, sepanjang sejarah umat manusia, jumlah orang yang berhasil menaati hukum Taurat adalah: NOL BESAR (lihat Roma 3:19-20).

Ketiga, hukum Taurat merupakan suatu paket utuh, tidak dapat dipilah-pilah mana yang masih berlaku dan mana yang sudah tidak berlaku. Jika kita menaati salah satu peraturan hukum Taurat, kita diwajibkan untuk menaati peraturan-peraturan lainnya secara sempurna. Paulus menegaskan, “Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat” (Galatia 5:3).

Ada orang yang masih bersikeras. Misalnya, ada pengkhotbah yang berkata, “Kita sekarang memberikan persepuluhan bukan karena kewajiban, melainkan karena iman.” Nah, pengkhotbah ini melupakan karakteristik keempat hukum Taurat. Paulus menyatakan, “Tetapi dasar hukum Taurat bukanlah iman, melainkan siapa yang melakukannya, akan hidup karenanya” (Galatia 3:12). Menaati hukum Taurat tidak memerlukan iman! Mungkinkah sekarang Allah mengaruniakan iman kepada kita, agar kita mampu melakukan (sebagian) hukum Taurat?
Selain itu, kita beriman pada karya Kristus yang sempurna untuk penebusan, pembenaran, dan pengudusan kita (Ibrani 9:28; 10:2, 10, 14; Efesus 2:16; Kolose 1:22). Jika kita berkata bahwa kita melakukan hukum Taurat dengan iman, bukankah secara tersirat kita menyatakan bahwa karya Kristus belum sempurna dan kita masih perlu menambahkannya dengan perbuatan kita menaati hukum Taurat?

“Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Hidup yang sekarang aku hidupi secara jasmani adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Galatia 2:19-20)

Sungguh. Penebusan Kristus menjadikan kita mati terhadap hukum Taurat. Dia tidak menginginkan kita hidup berkutat dengan berbagai peraturan, yang tampak rohani sekalipun (bandingkan dengan Kolose 2:20-23). Hukum dan peraturan mendatangkan kematian. Bersaat teduh, misalnya, itu salah satu disiplin rohani yang baik. Namun, jika kita menjadikannya sebagai hukum dan sebagai tolok ukur kesalehan–“Kalau hari ini aku bersaat teduh, Tuhan berkenan kepadaku. Kalau aku lalai bersaat teduh, Tuhan tidak berkenan”–perkara yang baik itu akan mencekik kita dalam pasir isap kegagalan dan rasa bersalah.

Kristus mau membebaskan kita dari lingkaran setan itu. Kita dibenarkan bukan karena ketaatan kita, melainkan karena kepercayaan kita kepada anugerah-Nya. Dia menginginkan suatu hubungan penuh kasih dengan kita: kita tinggal di dalam Dia dan Dia berdiam di dalam kita; kita menjadi satu roh dengan Dia, dan kita bersama-sama dengan Dia menyatakan kehidupan-Nya dan buah Roh-Nya.

Ya: hukum Taurat mematikan; hubungan penuh kasih dengan Kristus menghidupkan!

Sending
User Review
0 (0 votes)

Add Comment

Klik sini untuk komentar