{"id":1957,"date":"2020-01-04T15:01:14","date_gmt":"2020-01-04T07:01:14","guid":{"rendered":"http:\/\/thehopemessage.com\/?p=1957"},"modified":"2020-01-06T15:25:41","modified_gmt":"2020-01-06T07:25:41","slug":"pada-waktu-engkau-tidur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/2020\/01\/04\/pada-waktu-engkau-tidur\/","title":{"rendered":"Pada Waktu Engkau Tidur"},"content":{"rendered":"\n<p>Akhirnya si kembar lahir juga. Hari yang\ndinanti-nantikan oleh Ishak dan Ribka.&nbsp;\nIshak duduk di luar tenda, menunggu dengan gelisah, sementara mendengar\nerangan Ribka. Menit demi menit berlalu, tentu ini tak seberapa dibanding\nduapuluh tahun penantian. Bunyi teriakan Ribka makin lama makin keras, dan\nakhirnya terhenti. Berganti dengan tangisan ramai dua bayi.<\/p>\n\n\n\n<p>Sang bidan yang membantu kelahiran Ribka,\nkeluar dari tenda dan memanggil Ishak masuk. Sesaat Ishak terpana menyaksikan\ndua bayi \u2013 darah dagingnya sendiri \u2013 untuk pertama kali. Yang satu lahir\nberbulu, satunya lagi mulus. <\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum ia sempat mengucapkan sepatah kata,\nsang bidan bersuara lirih, \u201cTuan, yang berbulu lahir duluan, dan adiknya keluar\nsambil memegang tumitnya\u2026\u201d <\/p>\n\n\n\n<p>Ribka tercenung mendengarnya. Teringatlah ia\nakan apa yang Tuhan firmankan kepadanya, saat ia meminta petunjuk. Walau\nhatinya tidak sepenuhnya mengerti, ia hanya memejamkan matanya, bersyukur akan\nhari besar ini. <\/p>\n\n\n\n<p>Ishak menamai anak sulungnya Esau, artinya\n\u2018berbulu\u2019, sebagaimana ia lahir dengan bulu lebat menutupi tubuhnya. Esau dalam\nbahasa Ibrani, artinya bulu \/rambut. Dan yang kedua dinamainya Yakub. Dalam\nbahasa Ibrani, kata Yakub, bisa berarti \u2018tumit\u2019atau \u2018curang\u2019.<\/p>\n\n\n\n<p>Kedua anak kembar ini tumbuh berlainan. Esau bertumbuh menjadi seorang yang \u2018macho\u2019, gagah perkasa, berbulu, dan gemar berburu. Berbulu, gemar berburu dan suka terburu-buru. Tak ayal, Esau menjadi anak kesayangan Ishak yang juga senang berburu. Berdua mereka, mengarungi padang perburuan, pedang dan busur adalah koleksi mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebaliknya Yakub adalah anak rumahan, anak\nmami. Senangnya masak memasak bersama Ribka. Koleksinya adalah resep-resep\nmasakan Timur Tengah. Sudah tentu, dia adalah anak kesayangan Ribika.<\/p>\n\n\n\n<p>Satu hari menjelang senja, mentari masih\nbersinar terang dan sisa-sisa panasnya masih terasa menyengat bumi. Yakub\nsedang sibuk di memasak di tempat terbuka. Periuknya mengayun pelan ditiup\nangin di atas api. Dengan telaten Yakub mengaduk-aduk masakannya. Semerbak\nharum masakannya tertiup angin ke mana-mana. <\/p>\n\n\n\n<p>Datanglah Esau dari perburuannya. Seluruh\ntubuhnya berlepotan lumpur dan keringat. Kelihatannya bukan hari yang terlalu\nbaik bagi dia, mukanya terlihat lelah dan suntuk. Tangannnya juga hampa.\nMencium bau masakan itu, benar-benar membangkitkan seluruh indera tubuhnya\nuntuk bereaksi. Beranjaklah ia mendekati Yakub yang sedang memasak.<\/p>\n\n\n\n<p>Yakub pura-pura tidak melihat, sibuk\nmengaduk-aduk, membuat asapnya tambah menyebar. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBerikan kepadaku sop merah yang kamu masak\nitu! Aku benar-benar kelaparan!\u201d Esau berseru pada Yakub.<\/p>\n\n\n\n<p>Yakub tetap terdiam, pura-pura tidak\nmendengar. Esau mulai merasa kesal dan rasa laparnya ditambah aroma sedapnya\nitu melumpuhkan otaknya. Mukanya mulai memerah. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cJuallah dulu hak kesulunganmu kepadaku, \u201c\nujar Yakub dengan santai.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHuh!\u201d Esau mendengus. \u201cAku sudah mau mati\nkelaparan sekarang, apa gunanya pula hak kesulungan itu!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBersumpahlah dulu padaku, \u201c Yakub menjawab\nacuh tak acuh. Kepalanya menunduk menyembunyikam rasa girang di wajahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Esau pun bersumpah dan menjual hak\nkesulungannya, ditukar dengan semangkuk sup kacang merah dan sekerat roti. Akal\npanjangnya tak bisa berjalan, ketika hawa nafsu lapar dan lelahnya\nmengendalikan dirinya. Namun juga, menyingkapkan satu rahasia di sudut hatinya\nyang gelap \u2013 ia sebetulnya tidak menghargai hak kesulungannya. Ia memilih\nmelampiaskan nafsu sesaatnya daripada memiliki hak kesulungan yang berharga\npanjang sampai pada keturunanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Esau menghabiskan sop dan rotinya dengan\nrakus. Sekejap saja, hilang. Lalu ia beranjak pergi, meninggalkan Yakub.\nDemikianlah keturunannya juga dipanggil \u201cEdom\u201d, artinya merah \u2013 dari sop kacang\nmerah tersebut yang lenyap dalam sekejap \u2013 sebagai pengingat abadi, bagaimana\nsuatu harta tak ternilai hilang hanya oleh semangkuk sup kacang merah.<\/p>\n\n\n\n<p>Ribuan tahun kemudian, penulis surat Ibrani\nmenuliskan kisah ini sebagai rujukan agar kita tidak menolak anugerah Allah,\nhanya karena kesenangan duniawi sesaat. <\/p>\n\n\n\n<p>Esau dan Yakub. Kisah dua bersaudara yang\nmemilki jalan yang berbeda. Jalan itu ditentukan oleh pilihan mereka. Esau\ntidak menghargai berkatnya, sebaliknya Yakub memandang tinggi berkat Allah.<\/p>\n\n\n\n<p>Sejak pemilhan Yakub dari kandungan, Allah\nsudan mengisyaratkan kepada Rebeka, bahwasanya Dia bekerja dengan anugerah. Dia\ntidak memilih berdasarkan baik atau buruk, semua semata-mata adalah\nanugerahNya. Esau yang gagah perkasa, tidak menghargai anugerah itu, Yakub yang\nmerasa lemah menghargainya. <\/p>\n\n\n\n<p>Seringkali kita juga begitu, bukan. Kalau\nsaat kita sedang di puncak, karir bagus, uang banyak, perhatian kita tertuju\nkepada hal-hal tersebut. Rasanya anugerah Allah bukan prioritas lagi. Atau\nsebaliknya ketika kita terpuruk, atau hidup dalam kekuatiran terus menerus,\nkarena kita mengandalkan daya kekuatan kita, seperti Esau. Kita cuma melihat\nhidup melulu dalam perspektif kita, soal uang, soal hidup mati, soal makan apa\n\u2013 dan sayang, kalau kita melewatkan anugerah itu, yang sudah disediakan bagi\nkita. <\/p>\n\n\n\n<p>Esau tidak menghargai hak kesulungannya,\nkarena ia berpikir pendek, ia mengarahkan matanya pada apa yang kelihatan.\nTetapi, apa yang kelihatan ini sebetulnya akan berakhir. Yang kelihatan nyata,\nseperti gedung, mobil, baju tidak abadi. Perkara yang tidak kelihatan, justru\nadalah yang abadi. Kita cenderung memfokuskan pandangan kita pada apa yang\nkelihatan juga, padahal yang kekal, hal-hal yang rohani adalah hal yang tidak\nkelihatan.<\/p>\n\n\n\n<p>Walaupun Yakub, menghargai berkat Allah\ntersebut, ia belum memahami, bahwa anugerah Allah bertolak belakang dengan\nusaha manusia. Ia memutuskan bahwa ia harus berjuang dengan kekuatan sendiri,\ndengan akal dan tipu daya untuk memperolehnya. Sepanjang hidupnya, Allah\nmengajar Yakub dengan sabar,&nbsp; bahwa bukan\n\u2018karena kuat gagah\u2019, bukan \u2018karena akal cerdik\u2019, tetapi semata-mata karena\nanugerah Allah. Kelak kita lihat, hidup Yakub dipenuhi lika-liku karena ia\nbergumul antara mengandalkan kekuatannya sendiri atau percaya dan berserah\nkepada Allah.<\/p>\n\n\n\n<p>Yakub mungkin lega berpikir ia akhirnya\nmemperoleh \u2018hak kesulungannya\u2019 tersebut. Sayang, ia tak tahu, itu semua sudah\ndipersiapkan baginya, bila ia berserah pada anugerah dan panggilan Allah.\nBanyak dari kita juga begitu, kita bersusah payah untuk mengisi air pada ember\nyang bocor, bekerja sampai larut malam, tak menyadari bahwa Allah memberikan\nkepada yang dicintai-Nya, pada waktu mereka tidur! Sia-sialah para penjaga kota\nberjaga sampai larut malam, kalau bukan Tuhan yang menjaga kota, mazmur Daud.\nSia-sialah kita makan roti keringat berasa pahit dan asam, membanting tulang\nsampai malam, padahal Allah memberikan berkatnya pada waktu mereka tidur.&nbsp; \n\nAmbillah pelajaran dari Yakub ini. Kalau kita sudah tahu\ntentang berkat Allah, percaya dan berserah padaNya. Beristirahat di dalam\nhadiratNya, gantinya memfokuskan pada masalah kita, karena di waktu kita\nberistirahat, Allah bekerja. \n\n\n\n<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Akhirnya si kembar lahir juga. Hari yang dinanti-nantikan oleh Ishak dan Ribka.&nbsp; Ishak duduk di luar tenda, menunggu dengan gelisah, sementara mendengar erangan Ribka. Menit demi menit berlalu, tentu ini tak seberapa dibanding duapuluh tahun penantian. Bunyi teriakan Ribka makin lama makin keras, dan akhirnya terhenti. Berganti dengan tangisan ramai dua bayi. Sang bidan yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1959,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[54],"tags":[],"class_list":["post-1957","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ngopi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1957","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1957"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1957\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1962,"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1957\/revisions\/1962"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1959"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1957"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1957"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1957"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}