{"id":1951,"date":"2020-01-03T17:21:16","date_gmt":"2020-01-03T09:21:16","guid":{"rendered":"http:\/\/thehopemessage.com\/?p=1951"},"modified":"2020-01-04T15:07:10","modified_gmt":"2020-01-04T07:07:10","slug":"the-grand-design","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/2020\/01\/03\/the-grand-design\/","title":{"rendered":"The Grand Design"},"content":{"rendered":"\n<p>Bagaiamana perasaanmu, jika engkau mendapati dirimu berada\ndalam masalah kemustahilan yang sama persis seperti ayahmu alami? Mungkin\nseperti itu perasaan Ishak, ketika ia mandapati bahwa istrinya mandul dan tidak\njuga melahirkan setelah sekian lama. Tentunya Ishak hafal benar akan masalah\nini, karena namanya dilekatkan di situ. Jadi d\u00e9j\u00e0 vu, kayaknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ishak. <\/p>\n\n\n\n<p>Namanya berarti \u201cTertawa\u201d. Kalau dia orang Jawa, mungkin\nnamanya jadi Guyu bin Ibrahim. Nama itu diberikan karena Sara, ibunya tertawa\nmendengar pesan dari Allah, bahwa ia akan melahirkan anak, padahal Sara sudah\nlama menopause. <\/p>\n\n\n\n<p>Kini Ishak dihadapkan dengan masalah yang sama. Walaupun\nbelum setua ayahnya waktu ia lahir, umurnya tidaklah muda lagi, sudah hampir\n60-an. &nbsp;Maka berdoalah Ishak bagi\nistrinya. Tentulah Ishak tahu, bahwa Allah telah menjanjikan keturunan yang\nbanyak bagi Abraham lewat Ishak. Nyatanya sekarang Ribka mandul, seolah-olah\nkemyataan dan janji bertolak belakang. Mareka sudah menunggu selama 20 tahun! Secara\nlogika, menurut cara alami, menurut ilmu biologi, janji itu mustahil. Mungkin\nbeban Ishak sedikit lebih ringan daripada beban Abraham waktu itu, paling tidak\nIshak bisa menengok ke belakang dan mengingat bagaimana Allah melakukan hal\nyang mustahil kepada Abraham, dan dirinya sendiri adalah bukti nyata dari\nkemustahilan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya bayangkan, Ishak dan Ribka tentu dipenuhi harapan bahwa\nanak mereka akan lahir tidak lama setelah mereka menikah. Tahun-tahun pertama\npernikahan diisi banyak percakapan tentang persiapan akan kelahiran anak-anak\nmereka.<\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cSayang\u2026, kira-kira mau mau kasih nama apa ya untuk anak\nkita\u2026\u201d tanya Ribika, di tahun pertama.<br>\n\u201cKalau nanti anakku lahir, akan aku ajarkan dia berburu, \u201c kata Ishak sambil\nmengukir pisau yang ia buatkan untuk anaknya. Tahun ketiga\u2026<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Setahun berlalu. Dua tahun, tiga tahun, sepuluh\u2026.. kini hampir 20 tahun dalam penantian.\nKira-kira air mata juga sudah mengering, dan lutut yang dipakai berdoa sudah\nkapalan. Manusiawi, kalau menyerah. Tetapi Ishak tetap berdoa. <\/p>\n\n\n\n<p>Seringkali Allah meninggalkan jejak-jejak kemustahilan agar\nmanusia ingat bahwa keterlibatan Allah itu semata-mata karena kasih karunia.\nBisa saja, Allah memberikan anak kepada Ishak di usia mudanya, kan? Dengan\ndemikian Ishak dan Ribka tidak perlu deg-degan. Tapi, begitulah, Tuhan. Seperti\nhalnya dengan Abraham, Dia menyatakan janjiNya di tengah ketidak berdayaan\nmanusia, supaya manusia selalu ingat, bahwa Tuhan-lah sang sumber anugerah.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Seriously<\/em>, kalau kita bisa milih, kayaknya kalau\nbisa, janji Tuhan dibuat gampang saja. Tidak usah sampai mepet-mepet dan bikin\ntegang. Hidup lebih santai kalau ngga <em>last\nminute<\/em> begitu. Mungkin banyak yang suka naik <em>roller-coaster<\/em> di taman hiburan, tapi <em>roller-coaster<\/em> di hidup sebenarnya? Beraaaat\u2026..<\/p>\n\n\n\n<p>Kenapa orang Israel dulu harus mengembara susah payah lewat\npadang pasir? Kenapa Tuhan biarkan orang Mesir mengejar-ngejar mereka sampai\nsudah terdesak di pantai Laut Merah. Kan gampang saja, kalau Tuhan kasih gempa\nbumi, biar mereka semua tenggelam jauh-jauh, dari awal. Masakan kalau Tuhan\nbisa membelah Laut Merah, DIa tidak bisa bikin gempa bumi dan tanah menganga? <\/p>\n\n\n\n<p>Saya tidak tahu. Tapi yang pasti, kalau tidak demikian, tidak\nada kesempatan bagi orang Israel untuk mengalami dan menyatakan iman mereka.\nKalau bukan karena kepepet, tidak ada peluang untuk mereka melangkahkan kaki ke\ndalam Laut Merah, walaupun laut itu belum tersibak<\/p>\n\n\n\n<p>Mengapa Tuhan biarkan orang Filistin merajalela, dan Goliat\ntampil menghina-hina nama Allah? Bukannya lebih mudah kalau dari awal-awal saja\npasukan Filistin itu dibuat tercerai berai oleh angin badai? <\/p>\n\n\n\n<p>Saya tidak tahu juga. Maunya kita mungkin begitu. Tapi kalau\nbukan karena itu, tidak ada kesempatan bagi Daud untuk menyatakan imannya dan\nberjalan maju. Selanjutnya Allah membuktikan anugerahNya bagi Daud dan menyematkan\nkemenangan yang manis, di hadapan bangsa Israel yang tadinya ketakutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita cuma punya kesempatan untuk memiliki pengalaman iman itu\nselama hdup di muka bumi, di kolong langit ini. Saat kita di sorga nanti,\nketika hadirat Tuhan dinyatakan tanpa selubung, orang tidak perlu iman lagi.\nSemua orang , baik yang percaya atau yang tadinya tidak percaya, tidak akan\ntahan untuk berlutut di hadapan kemegahan hadirat Allah. <\/p>\n\n\n\n<p>Jadi teringat katanya Brennan Manning, <em>\u201cAku benar- benar yakin bahwa di hari penghakiman nanti, Tuhan Yesus akan menanyai kita satu pertanyaan, dan hanya satu pertanyaan saja: Apakah kamu (waktu di dunia-red) percaya bahwa Aku mengasihimu, bahwa Aku menginginkanmu, bahwa Aku menantikanmu dari hari demi hari, bahwa Aku rindu selalu mendengar suaramu?\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Allah pun\nmendengar doa Ishak. Ah, akhirnya.. Ishak dan RIbka bukan main leganya. <\/p>\n\n\n\n<p>Namun tidak lama\nrasa lega itu bagi RIbka. Proses mengandungnya ternyata juga tidak mudah! Perutnya\nserasa dikocok-kocok. Hmmm, saya tidak pernah merasakan mengandung sesusah\ngimana, tapi melihat istri saya mengandung, saya tahu yang normal saja tidak\nmudah, apalagi dengan keadaan seperti ini. Kedua bayi di dalam kandungan Ribka\nseperti berkelahi di dalam perutnya. <\/p>\n\n\n\n<p>Ribka merasakan\nkesakitan yang berat, sampai-sampai ia berpikir, \u201cUntuk apa aku hidup?\u201d Setelah\nmenunggu selama 20 tahun, lalu dikabulkan permintaannya, ternyata hidup tidak\nlebih mudah setelah itu! <\/p>\n\n\n\n<p>Seringkali kita\nmengalami hal itu juga, kan? Setelah sesaat mengalami kemenangan yang gemilang,\neh tahu-tahu jalan di depan ternyata masih berbatu, berlubang dan di belah\njurang. Tadinya kita pikir sudah masuk jalan tol sudah lancer, eh tahu-tahu ban\nmeletus di tengah jalan tol. Kesal? Frustasi? Seperti itulah yang dirasakan\nRibka. <\/p>\n\n\n\n<p>Seperti seorang\nwanita yang didoakan Elisa untuk memperoleh anak, namun tiba-tiba anaknya mati.\nDalam kepedihannya, ia mengeluh\u2026.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun Ribka\nmelakukan hal yang tepat. Ia mencari Tuhan dan petunjukNya! Maka Ribka datang\nkepada Tuhan dan menanyakan hal ini. Tuhan pun menjawab, \u201c<em>Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar\ndari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan\nanak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Apa yang Tuhan\nnyatakan kepada Ribka adalah bahwa apa yang ia alami sekarang adalah bagian\ndari sebuah \u2018grand design\u2019 yang maha agung. Allah mengawasi dan memelihara\nRibka dan Dia tahu segalanya dengan detil, walau tentunya Ribka tidak dapat\nsepenuhnya memahami hal ini. <\/p>\n\n\n\n<p>Di masa depan, kedua\nanak di kandungan itu menurunkan bangsa Israel dan bangsa Edom. Namun nubuatan\nini juga mengandung pesan simbolis, bahwa yang rendah akan ditinggikan dan yang\nlemah akan dikuatkan. <\/p>\n\n\n\n<p>Kita tidak selalu dapat melihat \u2018<em>the grand design<\/em>\u2019 yang Allah rancangkan buat kita. Tuhan sebetulnya tidak bilang apa-apa soal kesakitan Ribka di masa mengandungnya. Ribka mungkin berharap, jawaban dari Tuhan sesederhana untuk menghapus kesakitannya. Keterbatasan kita yang cuma bisa melihat \u2018masa sesaat\u2019 seringkali membutakan kita untuk melihat <em>the big picture of grace,<\/em> gambaran besar kasih karunia. Ya, memang kalau sekarang kaki kita tanpa sandal nginjek paku, apalagi pakunya sampai nembus ke dalam, mana bisa kita memikirkan yang lain selain kesakitan kita. Apa yang kita mau cuma, detik ini juga, sakitnya hilang!<\/p>\n\n\n\n<p>Allah punya maksud dalam hidup Yakub, dan nantinya akan kita lihat bagaimana hidup Yakub dengan maksud yang sudah Allah tetapkan sejak ia dari kandungan. Dan itu juga berlaku bagi kita semua! Allah telah menetapkan suatu maksud dan panggilan yang unik dalam hidup kita, sejak kita berada dalam kandungan, dan maksud dari Allah itu disertai dengan janji, janj penyertaan dan pemeliharaan.\u00a0 Mungkin kita tidak selalu tahu pasti maksud dan rencana Allah secara detil dalam fase-fase hidup kita, tidak apa. Kita akan lihat nanti, bahkan Yakub, leluhur bangsa Israel pun tidak selalu mengerti panggilanNya dari awal. Tidak apa untuk kita tidak mengerti semuanya, bagian kita hanya percaya. Percaya, bahwa Allah punya maksud yang sangat pribadi dan unik dalam hidupmu, percaya bahwa Dia menyertai grand design-Nya dengan janji.  <\/p>\n\n\n\n<p>\n\nJanji yang abadi dan tidak akan gagal.\n\n<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagaiamana perasaanmu, jika engkau mendapati dirimu berada dalam masalah kemustahilan yang sama persis seperti ayahmu alami? Mungkin seperti itu perasaan Ishak, ketika ia mandapati bahwa istrinya mandul dan tidak juga melahirkan setelah sekian lama. Tentunya Ishak hafal benar akan masalah ini, karena namanya dilekatkan di situ. Jadi d\u00e9j\u00e0 vu, kayaknya. Ishak. Namanya berarti \u201cTertawa\u201d. Kalau [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1953,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[54],"tags":[],"class_list":["post-1951","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ngopi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1951","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1951"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1951\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1961,"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1951\/revisions\/1961"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1953"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1951"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1951"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1951"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}