{"id":1936,"date":"2019-11-02T15:56:23","date_gmt":"2019-11-02T07:56:23","guid":{"rendered":"http:\/\/thehopemessage.com\/?p=1936"},"modified":"2019-11-02T16:23:52","modified_gmt":"2019-11-02T08:23:52","slug":"ketika-doa-kita-tidak-dikabulkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/2019\/11\/02\/ketika-doa-kita-tidak-dikabulkan\/","title":{"rendered":"Ketika Doa Kita Tidak Dikabulkan"},"content":{"rendered":"\n<p>Ada\ndua orang yang sedang berdoa. &nbsp;Yang satu,\nseorang pemuka agama, berdoa dengan confident yang pasti, berdiri tegak,\nmenengadahkan kepala ke langit.&nbsp; \u201cYa\nAllah, aku bersyukur, aku orang beriman dan saleh, aku bukan pembunuh, aku\nbukan kriminal, tidak suka main PSK,\nbukan pencuri dan tentunya bukan seperti koruptor yang duduk di belakang itu\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara seorang koruptor\nyang duduk di pojok belakang, dengan rasa terpukul dan tersudut, ia menundukkan\nkepalanya. Berlutut di kursinya, ia berbisik,\u201dYa Allah, kasihanilah aku, dosaku\nini banyak\u2026.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Kurang lebih seperti itulah\ncerita yang Tuhan Yesus kisahkan, tentunya cerita aseliya tentang doa orang\nFarisi dan pemungut cukai di Lukas 18:9-14. Di akhir cerita, ironisnya, si\npendosa itu pulang dibenarkan, kata Yesus. Karena barangsiapa meninggikan\ndiriya, akan direndahkan dan barangsiapa yang merendahkan dirinya akan\nditinggikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kisah di atas boleh jadi\nmemiliki pelajaran dalam dua fase di perjalanan hidup kita. Yang pertama, untuk\nkita pertama-tama percaya, bertobat dan datang kepada Tuhan Yesus. Kalau kita\nmerasa hidup kita sudah baik dan saleh, maka kita sama sekali tidak memerlukan\npengorbanan Yesus. Bahwa kita menjadi \u201cKristen\u201ddan \u201clahir baru\u201d, pertama-tama\nkarena kita tahu, kita orang berdosa, yang tidak dapat menyelamatkan diri kita\nsendiri, oleh karena itu kita memerlukan anugerah belas kasihan Allah untuk\nmengampuni dosa kita dan menerima pengorbanan-Nya di kayu salib. <\/p>\n\n\n\n<p>Nah, sesudah kita\ndiselamatkan, kita mengerti bahwa dosa kita yang merah seperti delima, sudah\ndicuci bersih oleh darah Kristus, sehingga kita menjadi putih seperti salju.\nBukan karena kesalehan kita, sedikitpun bukan karena kebaikan kita, semata-mata\noleh anugerah Allah saja. Tetapi kisah di atas tetap relevan buat kita, seperti\nhalnya kisah perumpamaan Tuhan Yesus yang lain. Satu cerita pendek, banyak\nsisi.<\/p>\n\n\n\n<p>Seorang guru sekolah minggu\nmengajarkan kisah perumpamaan tentang doa orang Farisi dan pemungut cukai di\natas. Dengan berapi-api ia mengkritik tajam kelakuan orang Farisi yang&nbsp; sombong itu. Di akhir cerita, ia memimpin\ndoa, \u201cTuhan, terima kasih karena kami tidak berlaku seperti orang Farisi itu\u2026..\n\u201c<\/p>\n\n\n\n<p>Mengingat anugerah Tuhan itu\nbukan hanya saat pertama kali kita percaya, tetapi terus menerus sepanjang\nhidup kita.&nbsp; Ada satu sikap orang Farisi\ndi atas yang boleh jadi terselip dalam hidup kita juga. Dalam rasa percaya\ndirinya, dia sudah menempatkan Tuhan menurut apa yang ia bayangkan dan yang ia\nmau. Ia tidak lagi memberi ruang di dalam hidupnya, supaya Allah bisa mengajar\ndan memperkenalkan diriNya lebih lagi. Kadang kita memiliki fantasi kita\nsendiri mengenai Allah, dan setelah sekian lama akhirnya kita menyadari bahwa\nfantasi kita mengenai Allah itu salah, kita menjadi kecewa. Ia menempatkan\nAllah di dalam kotak pemikirannya, dan dengan bangga ia berpikir mengenai hal\nitu.<\/p>\n\n\n\n<p>Tentu saja, pengenalan akan\nTuhan itu proses yang&nbsp; tak akan berakhir.\nDi dunia ini, kita hanya melihat bayang-bayang di depan cermin, kelak di sorga,\nkita akan melihat dan mengenal Allah muka dengan muka. Kita akan memiliki\npengetahuan, pengenalan dan iman yang sempurna akan Dia. Atau dengan kata lain,\nkita tidak lagi memerlukan iman dan hikmat di sana, karena semua sempurna\nadanya. Kalau hadirat Tuhan tidak lagi terselubung, tidak ada yang tidak bisa\nberiman. Namun, belum saatnya di dunia ini. Kita masih harus terus menerus\nbelajar dan membuka diri kita, untuk Allah berbicara kepada kita, membawa kita\nlebih dekat dan memahami Dia dengan lebih tiap-tiap hari. Di dunia ini saja,\niman itu hidup. <\/p>\n\n\n\n<p>Contohnya dalam hal berdoa.\nBerdoa itu harus dengan&nbsp; iman, bukan?\nArtinya kita percaya bahwa kita menerima apa yang kita minta. Banyak ayatnya\nmengenai hal tersebut. Namun bagaimana jika apa yang kita minta secara spesifik\ndan detil, tidak terjadi seperti yang kita mau atau bayangkan? Mengapa Allah tidak\nbertindak seperti yang kita bayangkan? Bukankah kita sudah mengimani dan\npercaya bahwa Dia akan bertindak seperti yang&nbsp;\nkita bayangkan? Bahkan mungkin kita membenarkan diri kita dan berujar\n(dalam hati), bahwa permintaan kita baik adanya, bukan seperti permintaan si\nAnu atau si Inu, yang minta kayak gitu, kok malah dikasih Tuhan.<\/p>\n\n\n\n<p>Mengapa?<\/p>\n\n\n\n<p>Ah, kalau kita masuk ke gurun\ngersang seperti ini, inilah saatnya kita membuka ruang bagi Tuhan dan mengakui\nbahwa selalu ada misteri dalam hidup kita. Di dalam misteri, iman itu hidup. Di\ndalam ruang yang kita buka bagi Tuhan itu, kita mempersilakan Dia mengajar\nkita. <\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin Dia akan memberikan\njawaban yang pasti. <\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin tidak ada jawaban\nyang langsung. <\/p>\n\n\n\n<p>Namun, satu hal pasti, dalam\nproses pencarian jawaban ini pun, damai sejahtera Allah pasti menggelora\nbergemuruh tak habis-habis.<\/p>\n\n\n\n<p>Paulus menulis di Surat\nFilipi 4, soal kekuatiran. \u201cJangan kuatir,\u201dkatanya. \u201cBersyukur saja dan ingat\nkebaikan Tuhan, dan curahkan saja, tumpahkan, keluarkan, ceritakan semua yang\nkamu ingini kepadaNya. Damai sejahtera Tuhan pasti melimpahi hidupmu.\u201d Ia tidak\nmenyimpulkan bahwa apa yang kita inginkan pasti akan terjadi persis seperti\nyang kita mau, tetapi ia menambahkan,\u201dKita pasti dapat menanggung segala\nperkara, kita pasti dapat melewati semua gurun gersang, kita pasti dapat\nbertahan di malam duka \u2013 oleh karena Kristus sendiri yang menguatkan kita\u201d dan\nia memastikan bahwa Allah tidak lalai,\u201dAllahku \u2018kan memenuhi segala keperluanmu\nmenurut kekayaan dan&nbsp; kemuliaan-Nya di\ndalam Kristus Yesus\u201d. Menurut caranya. Iman kita akan melihat bahwa cara-Nya\nYesus lebih sempurna dari caranya kita. <\/p>\n\n\n\n<p>Pada akhirnya, kembali ke\nanugerah. Kasih karunia Tuhan cukup bagi kita. Tuhan memberikan semuanya bagi\nkita, tidak ada yang Dia tahan-tahan atau sembunyikan. &nbsp;Cukup artinya, karena tidak ada lagi yang bisa\nTuhan tambahkan, semua sudah diberikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dia baik. Selalu baik. Walau\nkita tidak selalu mengerti saat ini.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada dua orang yang sedang berdoa. &nbsp;Yang satu, seorang pemuka agama, berdoa dengan confident yang pasti, berdiri tegak, menengadahkan kepala ke langit.&nbsp; \u201cYa Allah, aku bersyukur, aku orang beriman dan saleh, aku bukan pembunuh, aku bukan kriminal, tidak suka main PSK, bukan pencuri dan tentunya bukan seperti koruptor yang duduk di belakang itu\u2026\u201d Sementara seorang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1940,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[54],"tags":[60],"class_list":["post-1936","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ngopi","tag-ngopi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1936","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1936"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1936\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1939,"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1936\/revisions\/1939"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1940"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1936"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1936"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/thehopemessage.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1936"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}