Ngopi

Apakah tidak ada kesempatan lagi untuk bertobat kalau kita murtad? (Ibrani 6)

Oleh: Henry SL

Pernah membaca ayat ini dari Ibrani 6:4-6?
Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi  Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.

Pastinya bukan ayat favorit dari kebanyakan orang Kristen, kan? Belum pernah saya melihat orang pasang ayat ini sebagai profil fesbuk mereka atau jadi ayat yang beredar di WhatsApp Group. Kedengarannya mengerikan.  Ayat ini seolah-olah berkata kalau kita sudah pernah diselamatkan, apalagi kalau sudah “tinggi”posisinya, malah belum tentu kita akan selamat. Menakutkan? Namun apakah ayat ini berarti demikian?

Pertama-tama, kita harus mengerti bahwa surat ini dikirimkan secara umum kepada komunitas  Ibrani waktu itu, dengan maksud untuk dibacakan kepada orang Ibrani yang sudah menjadi Kristen (lahir baru) dan juga orang Ibrani yang belum menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat. Sebagian dari mereka mungkin percaya bahwa Yesus adalah seorang  sosok yang spesial, bahkan seorang Mesias, seorang yang diurapi dan  diutus oleh Tuhan, tetapi untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, hmm…. mereka belum siap. Itulah sebabnya di bab-bab sebelumnya, isinya penuh dengan penjelasan akan siapa Yesus dalam kacamata Perjanjian Lama dan Hukum Taurat, karena surat ini ditujukan kepada orang Ibrani pada masa itu. Perhatikan juga bahwa penulis menggunakan kata ganti ketiga, tentang “mereka” dan memastikan bahwa pesan ini bukan untuk jemaat. Itulah sebabnya ada kata kunci  “tetapi” di ayat 9. Pada saat penulis mulai dengan kata tetapi, dia menggarisbawahi bahwa kemudian dia berbicara kepada jemaat Kristen, “Tetapi, hai saudara-saudaraku yang kekasih, sekalipun kami berkata demikian tentang kamu, kami yakin, bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan”

Oke, jadi siapa “mereka”” yang dimaksud sang penulis? Mereka adalah orang-orang Ibrani yang sudah pernah diterangi hatinya. Diterangi, tidak berarti mereka menerima  Yesus dan lahir baru. RA Torrey, seorang guru Alkitab terkenal, mengajarkan bahwa diterangi ini sudah hampir dilahirkan kembali, tetapi tidak jadi – (there is a quickening short of regeneration). Dengan kata lain ayat ini bicara untuk orang-orang yang Roh Kudus sudah bekerja di dalam mereka, tetapi mereka tetap menolak  Yesus Kristus, dan dengan demikian mereka tidak pernah lahir baru. Mereka mengecap, tetapi tidak mau meminumnya. Ibaratnya saudara pergi jalan-jalan ke deretan rumah makan, di sana semua  rumah makan menawari saudara untuk mencicipi sample-nya (food tasting). Saudara cicipi icip-icip sedikit, lalu dimuntahkan lagi, terus dari satu restoran ke restoran yang lain. Itulah sebabnya dikatakan di ayat berikutnya (7-8), mereka seperti tanah yang tidak mau menghisap air hujan, sehingga kering dan tidak berguna. Mereka tidak bersedia minum Air Hidup itu! Bayangkan, mereka menyaksikan sendiri mukjizat-mukjizat yang para rasul lakukan, bahkan mendengarkan pengajaran mereka. Mungkin sekali sebagian dari mereka pernah melihat atau bertemu Tuhan Yesus juga secara fisik.

Penulis hendak memperingatkan orang-orang Ibrani pada masa itu, bahwa seandainya mereka menolak Kristus Yesus, tidak ada lagi pilihan lain untuk selamat. Kata “murtad” dalam Alkitab bahasa Indonesia ini sebetulnya lebih cocok berarti terjatuh, terpeleset (fall away dalam NKJV Inggris) dari kata parapipto (jatuh di samping seseorang, tersesat dari jalan yang benar, bersalah). Jadinya kalau mereka berpikir bahwa mereka hendak kembali kepada cara-cara Perjanjian Lama, dengan pengorbanan domba dan kambing, mereka salah besar! Seperti yang dijelaskan dengan  panjang lebar di bab-bab sebelumnya tentang posisi Yesus sebagai Imam yang sempurna, bahwa Dia adalah penggenapan dari semua bayangan yang ada di Perjanjian Lama. Tata cara penebusan di Perjanjian Lama yang penuh ritual dan hukum itu sudah berlalu di atas kayu salib yang berleleh darah Kristus. Betapa ruginya mereka, orang-orang Ibrani itu, kalau mereka sebagai bangsa pilihan yang lebih dahulu menerima bayangan (Perjanjian Lama) itu, dan pada saat Tuhan Yesus sebagai jawaban yang benar datang, mereka malah menolaknya!

Nah, kembali lagi ke kata kunci tadi ”TETAPI”di ayat 9 tadi – dengan tegas penulis kemudian menujukan kalimat berikutnya kepada orang percaya dan menekankan, kamu memiliki sesuatu yang lebih baik yaitu keselamatan, dan ini adalah keselamatan yang pasti! Seolah-olah dia hendak mengatakan, bagi mereka yang pilih-pilih restoran tadi dan tidak bersedia memilih SATU restoran yang pasti menyelamatkan mereka, setelah itu tidak ada lagi restoran lain untuk mereka, karena Kristus tidak mungkin disalibkan untuk kedua-kalinya, TETAPI kita orang  percaya kita telah memilih restoran yang tepat, restoran yang menyelamatkan……  begitu kira-kira analogi-nya  .

Sekarang kita melihat rangkaian puzzle ini jadi jelas, bukan? Lalu teringatlah kita akan jaminan Kristus Yesus sendiri, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.”

Perkataan ini untuk kita-kita yang takut. Dia bilang tangan-Nya memegang kita, ngga ada yang bisa merebut. Kalau-kalau masih ada yang takut juga, Dia menjamin lagi, tidak ada yang bisa rebut dari tangan Bapa. Kurang apa lagi, Saudaraku? 

Perkataan ini untuk kita-kita yang takut. Dia bilang tangan-Nya memegang kita, ngga ada yang bisa merebut. Kalau-kalau masih ada yang takut juga, Dia menjamin lagi, tidak ada yang bisa rebut dari tangan Bapa. Kurang apa lagi, Saudaraku?

Dan bacalah Ibrani 6 ini terus, bacalah bagaimana bab ini ditutup. Di situ ditekankan tentang Tuhan yang tidak mungkin berbohong, bahkan Tuhan yang bersumpah demi diri-Nya sendiri, untuk memastikan supaya kita bisa tenang dan percaya padaNya. Supaya kita tidak takut dan penuh pengharapan!

Sebab ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari pada-Nya, kata-Nya: “Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak.” Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya. Sebab manusia bersumpah demi orang yang lebih tinggi, dan sumpah itu menjadi suatu pengokohan baginya, yang mengakhiri segala bantahan. Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji itu akan kepastian putusan-Nya, Allah telah mengikat diri-Nya dengan sumpah, supaya oleh dua kenyataan yang tidak berubah-ubah, tentang mana Allah tidak mungkin berdusta, kita yang mencari perlindungan, beroleh dorongan yang kuat untuk menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita. Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya.

Justru sekarang kita lihat dari ayat Ibrani 6 ini, betapa berharganya darah Kristus itu dan  betapa leganya kita yang telah lahir baru dan diselamatkan sungguh hanya oleh anugerah semata. Betap sungguh hatiNya rindu untuk memberkati kita berlimpah-limpah dan berlimpah-limpah …… dan Dia mengikat diriNya dengan sumpah demi diriNya sendiri, bagi kita. For our’s sake!

O, sungguh berharga darahMu meleleh, Kristus. Itulah cintaMu besar kepada kami, nothing else matters compared to what You have done for us.

Sending
User Review
0 (0 votes)